Liputan terkini-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan potensi pengobatan COVID-19 yang sedang dikembangkan oleh Universitas Airlangga di Surabaya, Jawa Timur, memerlukan uji klinis tambahan.
Kepala BPOM Penny Kusumawati Lukito mengatakan bahwa setelah memeriksa uji klinis obat - yang dikembangkan bekerja sama dengan Angkatan Darat Indonesia dan Badan Intelijen Negara (BIN) - pada 28 Juli, badan tersebut menemukan beberapa temuan penting yang memengaruhi validitas tes.
Menurut BPOM, uji klinis tersebut belum memenuhi protokol BPOM dalam pengacakan subjek uji, termasuk variasi keparahan gejala. Penelitian itu perlu dilakukan secara acak agar lebih mewakili penduduk Indonesia, ”kata Penny, Rabu.
Obat yang diuji juga diberikan kepada pasien asimtomatik COVID-19, sedangkan protokol BPOM menyatakan bahwa obat yang diuji harus diberikan kepada pasien dengan gejala ringan, sedang, dan berat.
AGEN POKER
Penny menambahkan bahwa uji coba tidak menunjukkan hasil yang signifikan, dengan efek obat yang mirip dengan pengobatan yang ada yang digunakan untuk mengobati pasien COVID-19.
BPOM juga meminta para peneliti untuk mencatat kemungkinan efek samping dalam tes di masa depan, mengingat obat tersebut mengandung kombinasi sejumlah obat yang manjur.









0 comments:
Post a Comment