Liputan terkini-Perluasan jalur MRT Jakarta sedang berlangsung, membangun peluncuran yang sukses tahun lalu. Namun berbeda dengan fase pembangunan pertama yang menghasilkan jalur sepanjang 15,7 kilometer yang menghubungkan Jakarta Selatan dan Pusat, fase 2A menawarkan tantangan yang lebih besar dan lebih tidak mungkin.
Dengan tahap pengembangan berikutnya yang akan dilakukan sepenuhnya di bawah tanah, PT MRT Jakarta waspada terhadap penggalian artefak sejarah dan temuan arkeologi lainnya secara tidak sengaja dalam proses penggalian, yang mungkin mengakibatkan penundaan.
Pembangunan terowongan bawah tanah di sepanjang rute tersebut, yang diyakini memiliki nilai sejarah, akan membutuhkan perhatian khusus agar tidak menyebabkan penundaan proyek, kata William Sabandar, presiden direktur perusahaan transportasi milik kota itu.
Selanjutnya, rute yang direncanakan akan melewati Kota Tua, yang sebelumnya merupakan pusat administrasi kota di bawah pemerintahan kolonial Belanda, yang diyakini para ahli mungkin menyimpan banyak kekayaan sejarah di bawahnya.
[Tahap berikutnya] memiliki skala yang berbeda karena tingkat kesulitannya [sangat tinggi], dengan masalah seperti penurunan tanah dan tanah lunak, lingkungan dan warisan budaya,” kata William awal pekan ini.
AGEN POKER
Arkeolog Chandrian Attahiyat, anggota Tim Ahli Warisan Budaya Jakarta (TACB), mengakui pembangunan tahap kedua akan lebih menantang.
Rute MRT fase 2 kiranya banyak berisi artefak, terutama dari Monas [Monumen Nasional] hingga Kota Tua. Monas sendiri letaknya di kawasan Weltervreden, yang pernah menjadi lokasi ibu kota baru yang dipindahkan dari Kota Tua atau Batavia, ”ujarnya, Rabu.










0 comments:
Post a Comment