Wednesday, July 29, 2020

Laba menukik PLN sebesar 96 persen di tengah kerugian kurs


Liputan terkini-Raksasa listrik milik negara, PLN, terus melihat keuntungannya terkikis oleh kerugian selisih kurs, menurut laporan keuangan perusahaan. Laba PLN anjlok 96,5 persen tahun-ke-tahun (yoy) menjadi Rp 251,6 miliar (US $ 17,4 juta) pada semester pertama tahun ini, turun dari Rp 7,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Distributor listrik tunggal Indonesia membukukan pendapatan sebesar Rp 139,8 triliun pada semester pertama, kenaikan moderat 1,6 persen yoy, karena pertumbuhan konsumsi energi dibasahi oleh pembatasan sosial skala besar (PSBB) untuk menampung virus coronavirus di banyak kota di

Indonesia ketika banyak bisnis tutup atau menghentikan operasi. Penurunan laba sebagian besar disebabkan oleh kerugian nilai tukar mata uang asing yang menelan biaya perusahaan Rp8,8 triliun dari Januari hingga Juni, karena depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Meskipun pemulihan signifikan dari rendahnya Rp16.575 pada bulan Maret, rupiah tetap lebih lemah dari biasanya di paruh pertama tahun ini, melayang di atas Rp14.000 terhadap greenback.

Juru bicara PLN Agung Murdifi mengatakan pada Selasa malam bahwa perusahaan telah melakukan langkah-langkah penghematan biaya untuk memotong biaya. Kami telah melangkah maju dengan langkah-langkah efisiensi dalam biaya operasional, terutama dengan memotong penggunaan bahan bakar," katanya dalam sebuah pernyataan.

Biaya operasi PLN turun 1,7 persen yoy menjadi Rp 149,9 triliun pada semester pertama tahun ini. Laporan keuangan menunjukkan bahwa PLN memangkas pengeluaran bahan bakar sebesar 15,5 persen yoy menjadi Rp 56 triliun pada periode Januari-Juni, sementara keseluruhan biaya pegawai


turun 19,8 persen karena memangkas insentif dan bonus karyawan lebih dari setengahnya. Agung menambahkan bahwa penambahan 3,59 juta pelanggan baru juga berkontribusi terhadap pendapatan perusahaan selama enam bulan terakhir, meningkatkan basis pelanggannya menjadi 77,19 juta.

Pendapatan PLN juga termasuk Rp 3,3 triliun sebagai kompensasi dari pemerintah untuk program bantuan listrik COVID-19 tiga bulan yang dimulai pada bulan April untuk membantu 31 juta rumah tangga termiskin di Indonesia selama pandemi. Pemerintah masih berutang kepada PLN Rp 1,9 triliun untuk melaksanakan program ini.

0 comments:

Post a Comment