Saturday, July 25, 2020

Indonesia mendorong agenda perdamaian berkelanjutan selama kepresidenan DK PBB kedua di bulan Agustus


Liputan terkini-Indonesia akan memulai pemilihan presiden bergilir Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada bulan Agustus di tengah pandemi coronavirus yang menimbulkan tantangan bagi perdamaian dunia.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengatakan Indonesia akan mengangkat tema "Memajukan Perdamaian Berkelanjutan", yang sejalan dengan tema tahun sebelumnya "Investasi dalam Perdamaian". Menteri mengatakan kemajuan perdamaian membutuhkan upaya dan perhatian yang konstan.

Di tengah pandemi COVID-19, yang telah mengambil sebagian besar energi dan perhatian kita, jangan lupa untuk terus memajukan perdamaian karena perdamaian tetap penting bagi keberhasilan kita dalam menangani pandemi dan mempercepat pemulihan ekonomi," kata Retno saat konferensi

pers mengenai Kamis. Indonesia dijadwalkan menjadi tuan rumah tiga acara selama kepresidenan keduanya. Pertemuan pertama pada 6 Agustus akan membahas laporan pelantikan Sekretaris Jenderal PBB tentang pemberantasan terorisme dan kejahatan lintas batas.

Pertemuan kedua pada 12 Agustus akan membahas tantangan untuk mencapai perdamaian berkelanjutan dan berusaha untuk menyatukan upaya untuk mencapainya selama pandemi. Sementara itu, pertemuan ketiga, yang dijadwalkan 26 Agustus, akan fokus melindungi warga sipil dari serangan cyber.

Pihak berwenang telah mencatat peningkatan serangan siber terhadap fasilitas umum, termasuk rumah sakit dan bandara, selama pandemi COVID-19. Indonesia juga akan menyelenggarakan setidaknya 14 pertemuan untuk membahas upaya perdamaian di berbagai belahan dunia, termasuk laporan strategis tentang Negara Islam (IS) serta mandat tambahan Pasukan Sementara PBB di Libanon (UNIFIL) dan Bantuan PBB. Mission in Somalia (UNSOM)


Retno mengatakan Indonesia akan berusaha mengeluarkan dua dokumen selama masa kepresidenan.
Dokumen pertama akan fokus pada penyesuaian pendekatan untuk menangani orang-orang yang diduga terlibat dengan kelompok-kelompok teror melalui pendekatan Penuntutan, Rehabilitasi, dan Reintegrasi.

DK PBB tidak hanya akan fokus pada penegakan hukum, tetapi juga upaya untuk merehabilitasi dan mengintegrasikan kembali mantan teroris ke masyarakat," kata Retno.

Dokumen kedua akan fokus pada pasukan penjaga perdamaian wanita, karena Indonesia berupaya mendorong partisipasi yang lebih besar dari para wanita dalam upaya pemeliharaan perdamaian serta integrasi perspektif gender ke dalam misi penjaga perdamaian PBB.

0 comments:

Post a Comment