Saturday, January 25, 2020

Wabah Coronavirus: Orang Indonesia di Wuhan yang terkunci ingin pulang


Liputan terkini-Warga negara Indonesia yang terperangkap di kota Wuhan yang terkunci, di mana koronavirus maut pertama kali muncul, telah menyatakan harapan bahwa mereka akan diizinkan meninggalkan negara itu di tengah wabah.

Fitriani, seorang mahasiswa master berusia 25 tahun di Universitas Cina Geosains di Wuhan, mengatakan dia berharap dia bisa dievakuasi ke daerah yang lebih aman atau kembali ke Indonesia sebelum wabah memburuk.

"Saya tidak berencana untuk kembali ke Indonesia selama liburan musim dingin ini. Namun, saya mulai berpikir untuk pulang ketika virus tersebut dilaporkan menginfeksi 198 orang pada 21 Januari, tetapi kota itu telah dikunci sejak 23 Januari," Fitriani kepada The Jakarta Post melalui pesan teks pada hari Sabtu.

Fitriani adalah salah satu dari 93 warga negara Indonesia, mayoritas dari mereka adalah siswa, yang terperangkap di Wuhan sejak pemerintah Cina menutup perjalanan keluar dari pusat penyebaran virus pada hari Kamis, menurut ketua cabang Himpunan Pelajar Indonesia cabang Wuhan di Cina. (PPIT Wuhan), Nur Musyafak.

Pemerintah Cina telah menghentikan semua perjalanan dari dan ke Wuhan, menutup transportasi umum dan menyuruh penduduk untuk tinggal di rumah, AFP melaporkan, menambahkan bahwa 17 kota kecil lainnya di provinsi Hubei menyiapkan berbagai langkah mulai dari menutup tempat-tempat umum dan membatasi pertemuan besar hingga berhenti. angkutan umum dan meminta warga untuk tidak meninggalkan kota mereka.

Ada sekitar 200 warga negara Indonesia di Wuhan, Nur dari PPIT Wuhan mengatakan, menambahkan bahwa banyak dari mereka telah kembali ke Indonesia untuk liburan Tahun Baru Imlek, yang biasanya berlangsung hingga pertengahan Februari.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menawarkan jumlah yang berbeda, mengutip catatan kedutaan yang mengatakan ada 428 siswa Indonesia di Wuhan, 1.280 siswa di Beijing dan 849 di Shanghai, sambil menambahkan bahwa, hingga Desember, 90 persen siswa Indonesia di Wuhan dan lingkungannya telah kembali ke Indonesia untuk Tahun Baru Cina.


Fitriani, yang tinggal di asrama universitasnya bersama lima mahasiswa Indonesia lainnya, mengatakan dia tidak akan meninggalkan asramanya kecuali jika diperlukan. Asramanya mengatur pemindai termal untuk memantau suhu tubuh siswa pada 22 Januari, tambahnya.

Terakhir kali dia pergi adalah membeli bahan makanan di pasar tradisional terdekat yang sekarang ditutup sementara karena beberapa penjual takut akan virus corona. Dia mengatakan dia telah membeli makanan untuk minggu depan, seperti yang disarankan oleh otoritas Cina.

"Harga sayuran dan buah-buahan telah naik, dari 5 renminbi Cina per 500 gram menjadi 30 renminbi per 500 gram. Saya tidak punya pilihan lain selain membelinya sesuai kebutuhan," kata Fitriani.





0 comments:

Post a Comment